Pendiri Cotton On tidak langsung dengan cepatnya berjaya. Namun, melalui sebuah proses dari usaha kecil terlebih dahulu.

1. Awalnya Melakukan Penjualan Pakaian Denim

Sebuah bisnis memerlukan sebuah proses menuju kejayaan. Bukan seperti permainan sulap yang terjadi sebagaimana yang diinginkan. Awal pengusaha Cotton On ini bermula dari penjualan jaket denim. Penjualan jaket-jaket tersebut tidak berada di toko, melainkan diatas bagasi mobil. Awal penjualan di hari pertama hanya laku 1 jaket saja.

Jika diperhitungkan, masih belum cukup untuk kebutuhan membeli bensin dan makan siang. Hal yang perlu diacungi jempol dari sang pendiri adalah tidak mudah menyerah atas kegagalannya di hari itu. Sang pemilik terus berusaha dan terus mencoba pada kala itu hingga sedikit demi sedikit laku dan dikenal masyarakat.

2. Seminggu Kemudian Menunjukkan Peningkatan Profit

Baru seminggu berjuang, ternyata sudah menunjukkan hasilnya. Jika dibandingkan dengan minggu sebelumnya, profit yang didapatkan jauh lebih besar. Sebanyak 20 jaket denim pun berhasil terjual. Kondisi bisnis bisa dikatakan memukau, pasalnya hanya dalam jangka waktu yang relatif pendek sudah mendapatkan profit sedemikiannya.

Seiring berjalannya waktu, sang pemilik memperluas usahanya dengan menambah produk. Berbagai produk yang dihasilkan adalah celana, gaun, sweater, bra, dan jeans. Semakin jayanya bisnis yang dimiliki membuat sang pemilik membuka cabang, sehingga pengolahannya terdapat 2 toko.

3. Perkembangan Mulai dari 2 Toko hingga Ribuan Toko

Pada tahun 1991 jumlah toko merek ini masih bisa dihitung dnegan jari. Awalnya toko hanya berjumlah 2 saja. Tidak disangka-sangka, ternyata produk yang dihasilkan merek tersebut mempu menguasai dunia fashion.

Terbukti dengan adanya ribuan toko tersebar di berbagai negara di Benua Amerika dan Afrika. Peningkatan keuntungan sangat signifikan, terhitung hingga mencapai 20% pencapaian setiap tahunnya. Perluasan bisnis tidak hanya sebatas sampai Benua Amerika dan Afrika saja. Lebih meluas lagi ke Benua Asia, seperti pada negara Singapura.

4. Permasalahan Bisnis

Terjadi sebuah permasalahan bisnis yang dijalankan di Australia. Permasalahan ini bermula karena adanya persaingan ritail lain. Bahkan, pada saat itu bersaing dengan mode pakaian sekali pakai.

5. Khas Pewarnaan T-Shirt

Khas pewarnaan T-Shirt ini tidak mencolok. Lebih memakai warna yang natural. Sehingga, cocok dikenakan untuk berbagai usia dan lebih netral untuk dikenakan pada berbagai jenis kulit.

Kekhasan T-Shirt ini ada yang diproduksi polos dan juga ada yang diproduksi dengan paduan motif. Motif yang dipadukan tidak terkesan ramai, sehingga terlihat lebih simple. Daya tarik dari merek ini berada pada kerah yang ditampilkan didesain secara kreatif, sehingga meninggalkan kesan unik.

6. Mix and Match T-Shirt

Gaya T-Shirt ini dapat dipadankan dengan berbagai macam aksesoris pada wanita. Sebut saja syal ataupun kalung yang memperindah T-Shirt yang sedang dikenakan tersebut. Sedangkan, bagi pria bisa memakai dengan cara yang tren kekinian. Seperti halnya memakai jaket secara terbuka yang akan membuat semakin stylish penampilan Anda. Salah satu keuntungan dari T-Shirt ini disa dipadankan atau dengan kata lain mix and match.

Merek Cotton On yang berasal dari Australia lumayan sukses dalam perjalanan bisnisnya. Hal ini dikarenakan kualitasnya. Produksi T-Shirt merek ini banyak yang didesain simple. Sederhananya desain belum tentu kurang berkualitas.

Bahkan, desain yang polos juga bisa di mix and match, dengan kata lain dipadankan dengan aksesoris yang semakin menarik. Anda bisa mendapatkan produk sesuai dengan harapan dan tentunya nyaman dikenakan pada merek ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *